[repost] Pisuhan adalah Produk Budaya

Pesenan Mas Hendro.. Padahal aku males, soalnya terlalu emosional.

Beberapa hari ini, aku dikomplain gara-gara pisuhan. Reaksiku yang berlebihan membawa masalah. Pisuhanku ternyata membuat keadaan menjadi milis tjakra menjadi runyam dan panas. Dan pesan dari teman-teman mengalir deras ke arahku. Isinya “sabar gun..“, trus “pak kepsuk ndadi..“, ada lagi juga dari spesialis provokator alias rian su ableh “beleh wae gun..” Inti masalahnya? gak usah ditanya deh.. sepele abis *kata teman-teman*, bagiku ndak.

Aku mengaku khilaf. Jelas-jelas aku berbicara kasar di tempat yang tidak tepat. Milis tjakra adalah tempat teman sma yang rata-rata adalah tinggal di Jogja. Budaya di milis itu adalah sopan santun, damai, dan adem ayem. Empat tahun tinggal di Bandung jelas sangat merubah pola, cara, dan budaya hidupku. Dimulai dari OS yang terus menggelorakan ego, semangat keterbukaan, semangat persaingan dan pola-pola konflik antar etnis, religi, dan kelompok yang terlihat kentara, ternyata cukup mempengaruhiku.

Disini, persaingan adalah biasa, adu mulut mulai dari yang sehat sampai eyel-eyelan gak jelas juga ada. Pemanggilan etnis pun biasa, mulai dari “Dasar Batak !!” sampai “Cina lu..!!” cukup familiar di telinga. Belum lagi daftar absen kebun binatang, mulai anj*ng, babi, dsb. Terus ada organ tubuh seperti me**k, janc*k, ta*, dsb. Dan kata-kata tersebut juga terselip dalam percakapan sehari-hari. Aku masih ingat pertama kali mengucapkan as*, waktu SD kelas enam, setelah mengucapkan rasanya menyesal sekali dan merasa itu sebuah dosa besar.

Sedangkan di jogja, aku menyadari bahwa kata-kata di atas adalah vulgar. Dan sangat tidak pantas sekali untuk diucapkan. Lidah memang sangat berbahaya, dan bisa menembus ke hati seseorang. Terlihat jelas perbedaannya, pergaulan di bandung sudah sangat terbiasa sehingga menganggap itu adalah angin lalu, sedangkan budaya di jogja itu adalah tabu. Permasalahannya ada pada proses pengulangan dalam kehidupan sehari-hari yang kemudian mengkristal menjadi kebiasan dan ujungnya adalah budaya. Masalah biasa dan ndak biasa.

Tapi, apakah cuma itu? Ternyata tidak. Ada perbedaan satu lagi. Di Jogja, rata-rata orang memasukkan omongan orang ke dalam hati. Selanjutnya, bisa terjadi aksi anarkis atau juga pengendapan dendam dalam hati -ini adalah ekspresi mutung-. Sedangkan di sini, ekspresinya beda. Lebih fair dan terbuka. Jika dipisuhi, segera bertindak logis, mencari tahu ada apa yang salah. Jika salah, minta maaf, jika tidak terima, ya pisuhi balik..😀. Mungkin juga aku sudah tercerabut dari akar ke-Jogja-an. Sehingga lebih suka dengan keterusterangan daripada lawanku memendam dalam hati dan berkoar-koar dibelakang. Sungguh sebuah tindakan pengecut.

Ekspresif?!? bisa jadi. Dengan pisuhan, makna kata jadi lebih terasa daripada sekedar “hey..” atau “huh..”. Jika boleh dibilang berkiblat ke barat yang dengan ringan mengucap “d*mn” atau “sh*t” -ini dari film holywood-. Arus globalisasi juga berpengaruh, kata senior ku, orang-orang India di MNC malah lebih parah. Mereka suka mengintimidasi dan menekan. Belum juga orang-orang Cina yang suka mem-buruh-kan orang. Kita harus siap dengan pola pertentangan antar budaya seperti itu. Dan jika suatu saat aku dipisuhi, langkahnya adalah introspeksi diri. Dan kalo aku salah, aku mengakui dan meminta maaf. Jika ndak terima, Balas Pisuhi !!!. Sudah bukan saatnya lagi untuk bermain hati..

Arti kata :
pisuhan : umpatan, bs.jawa
beleh : sembelih, bs.jawa
mutung : pundung (bs. sunda), basa indonesia nya apa ya?

Dengan kaitkata , , , ,

5 thoughts on “[repost] Pisuhan adalah Produk Budaya

  1. trian mengatakan:

    matur nuwun gun… matur nuwun..🙂

    *ojo lali, hindari misuh dan ttp kuliah!😀

  2. Fajar mengatakan:

    hehe mantep om

    di arc masih dipertahankan ko budaya pisuahan-nya

    kekekekeke

  3. […] sebuah “Produk Budaya” yang harus dilestarikan (kalo mau tau lebih jauh silakan baca blognya mas igun ). Yang memang kata itu gak bisa kita pisahkan dari kehidupan sehari hari, hehe jadi saran saya […]

  4. Heri Heryadi mengatakan:

    Hm, gw pernah baca postingan ini. di mana ya, di blog sampean yang dulu kali? Baca tulisan itu gw ngerasa jadi pengen punya blog juga. hehe.. sekarang gw juga udah punya blog🙂

  5. regsa mengatakan:

    kadang kalo tidak diselipi dengan misuh kurang akrab rasanya bila ngobrol ama teman

    yo ra su? * maksude suigun….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: