What’s Up Lately..

Pengennya sih nulis blog, panas hati lihat blog orang setelah blogwalking. Pengen ikutan nulis juga. Banyak ide habis menguap (entah kemana.. tidak bisa dicairkan kembali). Sebulan sudah blog ini tidak tersentuh. Males nulis, gara-gara traffic pengunjung yang makin banyak aja. Tiap hari 70an orang lihat blogku. SEBEL!!!. Ini akibatnya kalo nulis tentang artis dan juga tentang masalah troubleshooting komputer. Pengunjung melonjak!

Alasan? halah, pake alasan segala. Satu-satunya alasan adalah males terkenal. Semakin banyak orang lihat blog kan jadi semakin banyak orang yang kenal. Jadi terkenal itu menyebalkan. Semakin banyak orang tahu, semakin banyak komentar. Ada angin (perubahan diri -red) dikit, sudah kacau dunia. Suka panas sendiri di telinga. Makanya aku mending milih ga terkenal seperti sekarang ini. Herannya banyak orang pengen jadi selebritis karena alasan terkenal. Hmm.. Pelajaran pertama*: Hidup kaya dan tidak terkenal, atau kalo susah, ya Tidak kaya dan tidak terkenal. Mau ngapa-ngapain enak. Nggak perlu jual pesona. Dan apa adanya.

Sebenarnya bisa dilakukan mode fatalis. Disable Google searchable, lalu delete posting-posting high traffic. Tapi itu bukan gaya orang jawa. Istilahnya ngono yo ngono neng ojo ngono**. Orang jawa itu memilih hidup yang tengah-tengah. Tidak berlebihan dan juga tidak kekurangan. Fatalis bukan cara-cara orang jawa. Kestabilan hati lebih penting. Makanya orang jawa susah panas (marah), karena dibutuhkan energi yang besar untuk berpindah state*** dari tenang menjadi marah. Dan dampaknya sesuai teori aksi reaksi, akan menyebabkan shortage**** energi pada tubuh manusia (untuk mengimbangi pengeluaran tadi). Efek buruknya jadi lepas kendali, lepas kontrol.

Aku terobsesi dengan jawa. Berubah 180 derajat dari saat-saat SMA dimana aku terobsesi dengan barat dan modernitas. Barat mengajarkan pencapaian. Milestone-nya seperti Seven Habit of Effective People, Chicken Soup, dan Kiyosaki‘s book. Semangat penaklukan yang kuat adalah cirinya. Pengennya semua hal dapat dihandle. Lalu bagaimana dengan jawa? Jawa mengajarkan keselarasan dan kedamaian. Menata hati menjaga kestabilan istilahnya. Endingnya aku lebih suka mendahulukan kepentingan kemajuan bersama daripada kepentingan pencapaian pribadi. Mau contoh: Besok ujian, tetep saja mengantar temen dari jogja untuk berkeliling Bandung. Lebih parah lagi, jadi caretaker suatu acara dan tabrakan sama ujian. Mana yang dipilih, lebih menjaga kestabilan tentunya.πŸ˜€

Itu efek buruknya. Kebaikannya tentu ada dan lebih banyak. Ceritanya ntar. Satu postingan khusus deh untuk itu, Supaya postingan ini enak dibaca, jadi aku batasi cukup 5 paragraf aja. Balik lagi, barangkali ini menjadi refleksi. Mengapa, karena ternyata pencapaian pribadi merupakan bagian dari pencapaian bersama. Contoh: aku lulus tidaknya kuliah adalah pencapaian diriku. Namun itu juga menjadi pencapaian buat kedua orang tua. Sebuah DilemaπŸ™‚ . Jadi, saat sekarang ini, aku kepikiran untuk beralih madzhab kembali. Menuju barat dan tinggalkan jawa. Ada temenku (orang jawa) yang aku sendiri sampai heran, obsesi akan pencapaiannya tinggi sekali. Sehingga kadang berpikir apakah temenku itu sudah luntur kejawaannya. Pelajaran Kedua*: Jika ingin mencapai kemajuan, gunakanlah filosofi barat. Jika ingin mencapai ketenangan dan kestabilan, gunakanlah filosofi Jawa. Membaca teorinya Carl Gustav Jung mengenai teori perkembangan (bukunya mas viar nih, pinjem lama, belum dibalik-balikin -maaf mas!), masa muda adalah masanya untuk pencapaian. Sedangkan masa paruh baya adalah permulaan untuk kestabilan dan ketenangan. Orang yang tenang dan stabil adalah tanda kedewasaan. Kata orang, dewasa adalah sifat yang baik. Tapi, menurutku, dewasa sebelum waktunya ternyata juga berdampak tidak baik. Akhirnya, ngono yo ngono neng ojo ngono.. Keseimbangan. Waduh.. Susah..

Istilah:
* : Ngikut gayanya Adrea Hirata di Laskar Pelangi
** : Arti harfiahnya adalah “begitu ya begitu, tapi ya jangan begitu” (tambah bingung kan?)
*** : kondisi
**** : kekurangan

Dengan kaitkata , , , ,

13 thoughts on “What’s Up Lately..

  1. trian mengatakan:

    postingan menarik setelah lama rehat.
    /1/
    ngomong2,aku yo jadi melu mikir. tapi aku lebih milih: bermanfaat. terkenal tidak, itu cuma kata orang. jadi, jadikan (jelek sekali kata duplikat! :D) banyak tindakan kita menjadi bermanfaat. ok mas ganteng?:)

    /2/
    aku termasuk juga orang yang baru ‘ngeh’ terhadap ke-Jawa-an setelah ‘tidak di jawa’. entahlah, mungkin tanah orang menjadikan seorang jawa rindu pada tanah aslinya yang khasnya baru terasa.πŸ˜€

    /3/
    Ada temenku (orang jawa) yang aku sendiri sampai heran, obsesi akan pencapaiannya tinggi sekali.
    sopo gun??πŸ˜•

  2. adit-bram mengatakan:

    oi…jangan berteori…laksanakan…

    mulai dan selesaikan….hehehehhe

    peace bro….

  3. ikram mengatakan:

    Menuju Barat? Oke.

    Welcome back, Igun.

  4. irvan132 mengatakan:

    istilah jawa banyak yang ga ngerti mas. maklum orang seberang. hehehe.

    -IT-

  5. bumisegoro mengatakan:

    menjadi jawa secara genetis tidak terhindarkan, sedangkan filosofi yang dianut adalah pilihan.

  6. isnuansa mengatakan:

    betul juga mas bumisegoro (sok taunya aku, anggap aja dia laki-laki) aku wong jowo sing memilih punya obsesi pencapaian tinggi…

  7. isnuansa mengatakan:

    jangan2 Mas Bumisegoro ki sing duwe Blog, waduh, maaf, lagi pertama berkunjung, dan baru baca 1 artikel, jadi masih kebingungan berada di rumah ini….

  8. ika mengatakan:

    numpang beken ajaaa.. hehehe

  9. bajaklaut mengatakan:

    ndang lulus wae heuheuheu…

  10. netta mengatakan:

    kemayu banget iiiih… sok selebπŸ˜›

    “Mau contoh: Besok ujian, tetep saja mengantar temen dari jogja untuk berkeliling Bandung. Lebih parah lagi, jadi caretaker suatu acara dan tabrakan sama ujian. Mana yang dipilih, lebih menjaga kestabilan tentunya. :-D”

    ketoke tergantung deh gun..nek ra mbolos2 banget, yo paling ora ono bagian2 sing isih tememplek hue he he heπŸ˜€

  11. igun mengatakan:

    @trian –>
    rahasia ndro..

    @adit-bram –>
    siap bos..

    @bumisegoro –>
    betul mas.. tapi masih tetap mikir juga untuk memperdalam dan memperkaya filosofi jawa. Seakan rasanya itu menjadi sebuah kewajiban.

    @isnuansa –>
    bukan mas.. saya bukan mas bumisegoro.πŸ™‚

    @netta –>
    iyo kie.. lagi kemayu..
    he..he..he..

  12. rime mengatakan:

    gua masih ga percaya ada blogger yang ga mau terkenal. kalo ga mau terkenal, curhatnya di microsoft word aja mas, hehe…

    masalah per-jawa-an, kalo menurut gua ga bisa dipukul rata gitu. orang jawa jugabeda-beda, ada yang kalem ada yang emosian, berarti ada yang ambisius ada yang kalem2 aja, ya tho?πŸ˜‰

  13. Fachrul Riza Siraj mengatakan:

    Jare sopo wong jowo iku ora panasan? Ojo-ojo kuwi awakmu wae sing pancen jembar atine. Lha wong aku kerep nesu-nesu kok. Ojo gampang nesu, mengko wong liya dadi wedi. Nanging yo ojo terlalu sabar, mengko wong liyane dadi nglunjak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: